Karomah Guru Mursyidku: Kisah Nyata yang Mengubah Hidupku

Ada kisah yang tidak bisa saya simpan sendiri. Kisah ini bukan dongeng, bukan karangan, tapi pengalaman hidup saya sendiri—pahit, berat, sekaligus penuh cahaya. Saya tuliskan ini agar siapa pun yang membaca tahu bahwa karomah itu nyata. Dan siapa pun yang Allah pilih untuk berada dalam bimbingan mursyid sejati, itu adalah karunia besar

Saya masih ingat jelas saat itu. Saya duduk di hadapan guru saya, Pangersa Abah Bandi QS—beliau yang juga dikenal sebagai Habib Ridwan Alatas. Dalam hati, saya bergumam. Ada pertanyaan yang tidak saya ucapkan, hanya saya pikirkan dalam diam. Tapi tiba-tiba, Abah menoleh dan menjawab isi hati saya… seakan beliau mendengar apa yang tidak saya ucapkan. Saya terdiam. Merinding. Mata saya berkaca-kaca.

Bagaimana mungkin seseorang bisa tahu isi hati orang lain, kecuali jika Allah bukakan tabirnya?

Namun itu belum seberapa. Di lain kesempatan, jauh sebelum saya sakit, Habib Ridwan Alatas pernah menyampaikan dengan lembut kepada saya, “Kamu nanti akan diuji dengan sakit yang cukup berat, tapi jangan khawatir. Semua akan ada jalannya.” Saat itu saya hanya mengangguk, tidak begitu mengerti maksudnya. Saya pikir itu mungkin hanya nasihat umum… hingga hari itu datang.

Selepas masa pandemi COVID-19, tubuh saya tiba-tiba tumbang. Sakit saya bukan satu, tapi seolah-olah semua datang sekaligus: demam berdarah, tipes, GERD, dan anxiety yang luar biasa. Tubuh lemas tak berdaya, pikiran gelisah, dan hati penuh rasa takut. Nafsu makan hilang total. Selama hampir satu minggu saya tidak makan nasi sama sekali, hanya minum air sedikit dan kadang makan pisang. Akhirnya saya harus dilarikan ke klinik dan dirawat.

Di tengah kondisi fisik dan mental yang nyaris runtuh itulah, Allah menunjukkan satu kejadian luar biasa.

Suatu malam, saya bermimpi. Dalam mimpi itu, saya bertemu Rasulullah SAW.

Saya bersalaman dengan beliau, mencium tangan beliau, dan melihat wajah mulia beliau yang begitu bercahaya. Kata “indah” tak bisa menggambarkan. Hati saya bergetar, penuh rasa rindu dan haru. Saya menangis dalam mimpi, dan ketika terbangun, air mata masih mengalir deras. Saya tahu, itu bukan mimpi biasa. Itu adalah rahmat. Isyarat cinta dari Allah dan Rasul-Nya, yang sampai kepada saya melalui bimbingan mursyid sejati.

Saya semakin yakin: sakit saya bukan kebetulan. Ini adalah bagian dari perjalanan jiwa saya, dan saya sudah “diberitahu” oleh guru saya sebelumnya. Siapa yang bisa tahu masa depan seseorang, kalau bukan karena izin Allah?

Bagi saya, karomah itu bukan tentang keajaiban luar biasa yang mencengangkan. Karomah adalah kasih sayang Allah yang turun lewat guru yang tulus menjaga dan membimbing. Abah tidak pernah menonjolkan diri. Beliau tidak pernah menyebut dirinya ini atau itu. Tapi bagi murid-murid yang mengikuti dengan hati, tanda-tanda itu akan tampak dengan jelas.


Catatan Penulis:
Tulisan ini bukan untuk mengagungkan manusia, tapi untuk menegaskan bahwa ketika seseorang dijadikan jalan oleh Allah untuk membimbing, maka yang mengalir darinya adalah cahaya petunjuk. Saya bersyukur pernah diingatkan sebelum sakit, diberi pelajaran saat sakit, dan dipulihkan dengan keajaiban doa dan bimbingan mursyid saya, Habib Ridwan Alatas.

Semoga siapa pun yang membaca, terbuka hatinya untuk lebih dekat kepada Allah dan Rasulullah SAW, dan diberikan guru sejati yang membimbing dengan kasih sayang dan keikhlasan.


Add your Comment