Tiba Tepat Waktu: Ketika Doa dan Karomah Mursyid Menembus Kemacetan

Suatu pagi, saya benar-benar berada dalam keadaan genting.

Waktu itu saya sedang terburu-buru menuju pertemuan penting dengan seorang klien. Lokasinya di daerah Mampang, Jakarta. Janjinya sudah ditetapkan: pukul 11.11 WIB. Aneh memang, waktunya sangat spesifik. Tapi itu yang disepakati.

Saya berangkat dengan niat baik, dengan waktu yang saya kira cukup. Namun entah kenapa, dalam keadaan terburu-buru, saya justru salah masuk tol. Dan lebih parahnya lagi—jalan tol yang saya masuki adalah tol yang macet parah. Warna merah penuh di aplikasi Maps, mobil nyaris tidak bergerak. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.40. Jujur saja, secara logika, tidak mungkin saya bisa tiba tepat waktu. Dalam hati saya mulai panik.

Tapi di tengah kekalutan itu, saya terdiam sejenak. Dalam hati, saya berdoa kepada Allah. Lalu saya ingat guru saya—Pangersa Abah Bandi QS. Dengan hati yang dalam, saya memohon kepada Allah agar diberi pertolongan melalui berkah dan karomah mursyid saya.

Belum sempat saya tenangkan hati terlalu lama, tiba-tiba HP saya berbunyi. Pesan dari Abah. Beliau hanya menulis singkat:
“Tiba tujuan tepat waktu.”

Saya tidak tahu bagaimana beliau bisa tahu apa yang saya alami. Tapi saya langsung menggigil. Badan saya merinding. Dan Masya Allah… dalam hitungan menit, tol yang tadi padat merayap tiba-tiba mulai bergerak. Perlahan tapi pasti, jalur mulai terbuka. Tidak ada logika yang bisa saya gunakan untuk menjelaskan kenapa tiba-tiba begitu lancar.

Dan benar saja…

Saya tiba di depan kafe tempat pertemuan tepat pukul 11.11 WIB. Bahkan saya masih sempat duduk sebentar, menata napas, dan mempersiapkan diri. Tidak terlambat, tidak terlalu cepat—tepat waktu, seperti yang dikatakan Abah.

Di titik itu saya menangis dalam hati. Saya merasa benar-benar kecil dan tak berdaya. Tapi saya juga merasa sangat dijaga.


Catatan Penulis:
Bagi saya, karomah bukan berarti hal-hal aneh atau supranatural yang sulit dinalar. Tapi kadang, karomah hadir dalam bentuk pertolongan kecil yang sangat berarti di momen yang tepat. Dan ketika Allah izinkan kita memiliki mursyid sejati yang memantau dan menjaga dalam diam, itu adalah nikmat yang tidak bisa dihitung dengan angka.

Semoga siapa pun yang membaca ini, diberi ketenangan hati dalam menghadapi kesulitan, dan dipertemukan dengan guru sejati yang menuntun menuju cahaya.


Add your Comment