Malam itu, saya sedang mengikuti pengajian online bersama Guru Mursyid kami tercinta, Pangersa Abah Bandi QS.
Sementara saya berada di rumah beliau, istri saya mengikuti dari rumah kami melalui Zoom.
Biasanya kami sangat teliti—apalagi soal dapur.
Tapi mungkin karena keasyikan mengikuti kajian, istri saya lupa bahwa kompor sedang menyala saat memasak.
Bau Aneh dan Bekas Gosong
Tiba-tiba, istri saya mencium bau yang tidak sedap.
Ia mencari sumbernya dan… betapa kagetnya dia saat melihat dinding dapur menghitam dan gosong.
Panci juga hangus. Tapi anehnya, api sudah mati dengan sendirinya.
Padahal kalau dilihat dari kondisi dapur, seharusnya rumah itu sudah terbakar.
Tidak masuk akal bisa mati sendiri apinya.
Aku Yakin, Itu Karomah dari Guru Kami
Ketika istri saya bercerita, tubuh saya merinding.
Saya tahu pasti bahwa itu bukan karena kebetulan atau keberuntungan.
Itulah berkah karomah dari Pangersa Mursyid kami.
Biarpun jasadnya tidak di tempat, ruh beliau senantiasa menjaga muridnya—dimanapun berada.
Saya teringat satu kisah dari para wali terdahulu.
Jika tak salah, kisah ini sering disebut-sebut sebagai karomah Tuan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani QS.
Saat sedang mengajar murid-muridnya, beliau tiba-tiba menghentikan pelajaran, menengadah, dan seperti menarik tangan di udara.
Tak lama setelah itu, tangan beliau basah.
Lalu dijelaskan, beliau barusan menolong murid yang sedang hampir tenggelam di negeri jauh.
Guru Sejati Tidak Terbatas Jarak
Kisah istri saya ini menguatkan lagi iman saya.
Bahwa Syeikh Mursyid bukan hanya guru secara lahir, tapi juga penjaga ruhani yang ALLAH beri izin untuk membantu muridnya, bahkan dalam keadaan genting.
Api yang mestinya membakar—menjadi padam.
Bencana yang harusnya datang—dibelokkan.
Semuanya terjadi dengan seizin-Nya,
melalui perantara kekasih-Nya.