Muntah Darah, Pincang, Tapi Tetap Patroli untuk Muridnya: Pengorbanan Seorang Guru Sejati
Kisah ini sulit untuk diceritakan tanpa menahan air mata.
Karena ini bukan kisah keajaiban semata, tapi kisah tentang cinta dan pengorbanan yang tak terlihat—yang hanya dilakukan oleh mereka yang telah mengorbankan hidupnya di jalan Allah.
Sebut saja seorang murid, berinisial D.
Waktu itu, keluarga D sedang mengalami gangguan yang sangat berat—gangguan ilmu hitam dari seseorang yang memang berniat jahat. Satu per satu anggota keluarga D jatuh sakit tanpa sebab. Wajah pucat, tubuh panas dingin, seperti tak bernyawa. Suasana rumah mencekam.
D mencoba segala cara: pengobatan medis, spiritual, dzikir sendiri. Tapi gangguan tidak kunjung hilang.
Hingga akhirnya D menyampaikan hal ini kepada Pangersa Abah Bandi QS, mursyid kami tercinta.
Dan di situlah keajaiban Allah terjadi.
Tanpa banyak bicara, Abah langsung mengambil tanggung jawab itu.
Seolah berkata dalam diam, “Biarkan aku yang menanggung. Biarkan keluarga muridku selamat.”
Dan Masya Allah… setelah itu, satu per satu anggota keluarga D membaik.
Tidur mereka tenang. Rasa sakit berkurang. Aura rumah kembali terang. Tapi ada yang tidak kami sadari saat itu.
Di balik semua itu, Abah justru jatuh sakit berat.
Beliau muntah darah, kaki sebelah tidak bisa berjalan normal, bahkan wajahnya pucat seperti menahan beban luar biasa. Tapi luar biasanya—setiap malam, dari pukul 2 pagi sampai menjelang Subuh, Abah tetap berpatroli mengelilingi rumah D secara ruhani dan fisik.
Dengan tubuh lemah, beliau berjalan pelan. Kadang pincang. Tapi tetap menyisir sekitar rumah si murid.
Bukan untuk gaya. Bukan untuk dipuji. Tapi karena cinta.
Dan yang lebih mengejutkan lagi—D dan keluarganya tidak tahu semua ini.
Mereka baru tahu dari cerita murid lain yang tanpa sengaja melihat atau mendengar.
Itulah guru sejati.
Menyembunyikan rasa sakit, tapi memikul beban muridnya.
Berjuang diam-diam, agar muridnya bisa tidur dengan tenang.
Catatan Penulis:
Saya menulis ini dengan hati yang penuh haru. Karena kadang kita sebagai murid terlalu sibuk dengan masalah kita sendiri, sampai tidak menyadari bahwa ada seorang wali yang menanggung sebagian beban kita, yang bahkan rela sakit demi kita, agar hidup kita tetap dalam perlindungan Allah.
Semoga Allah panjangkan umur beliau, sehatkan lahir batin beliau, dan ijinkan kita tetap berada dalam naungan cinta dan doa seorang mursyid sejati.