Perjalanan Penuh Karomah: Dari Rumah Guru ke Merak Kurang dari Satu Jam & Rezeki Datang Bersama Ridho Guru

Saya ingin menulis kisah ini sebagaimana adanya, tanpa dilebih-lebihkan sedikit pun, karena saya sendiri mengalaminya. Dan sampai hari ini, saya masih sering termenung bila mengingatnya.


Waktu itu saya, istri, dan anak saya telah tinggal menumpang di rumah Pangersa Abah Bandi QS selama hampir 3 bulan.
Tanpa pekerjaan tetap. Makan, minum, bahkan jajanan anak saya—semua ditanggung oleh Guru Agung kami.

Sebagai murid, saya merasa sangat malu.
Hati saya penuh campur aduk: terharu, bersyukur, tapi juga tidak enak hati karena tak bisa berbuat apa-apa. Harusnya saya yang berbakti, bukan menyusahkan.

Akhirnya, pada suatu malam, saya memberanikan diri meminta izin kepada Pangersa untuk pulang ke kampung halaman di Lampung. Dengan lembut, beliau hanya menjawab,
“Iya, besok pagi langsung saja. Tidak perlu pamit lagi.”

Paginya saya pun bersiap. Kami bertiga naik Grab ke Bitung.
Saya hanya punya uang sekitar Rp100.000–Rp200.000. Tidak cukup untuk banyak hal. Tapi karena sudah diizinkan dan disuruh oleh Guru, saya yakin saja.


Keajaiban Pertama: Mobil Aneh yang Datang Tanpa Dicari

Di Bitung, tiba-tiba muncul seorang bapak tua yang langsung mengajak kami naik mobilnya.
Mobilnya seperti Avanza lama—sudah usang dari luar, tapi dalamnya bersih dan nyaman. Tidak ada penumpang lain selain kami. Tidak menunggu, tidak bertele-tele.
Langsung berangkat.

Anehnya, rute yang diambil seperti menuju arah Jakarta, bukan ke arah tol Merak. Saya sempat bingung, tapi tak berkata apa-apa. Entah bagaimana, mobil itu tiba-tiba sudah berada di jalur yang benar—menuju Pelabuhan Merak.

Dan saat saya lihat ke belakang hari… baru saya sadari: semua berjalan terlalu cepat, terlalu rapi, terlalu mudah.


Keajaiban Kedua: Orderan Datang Tiba-Tiba

Di tengah perjalanan, saya tiba-tiba menerima orderan kerja (closing).
Padahal saya tidak sedang menjalankan iklan apa pun, tidak sedang aktif promosi. Tapi order itu datang… dan jumlahnya cukup besar.
Lebih dari cukup untuk membiayai kebutuhan kami di Lampung.

Ini seperti jawaban langsung dari Allah lewat karomah sang guru:
“Engkau pulang dalam taat, maka rezekimu ikut Aku kirimkan bersamanya.”


Keajaiban Ketiga: Selamat dari Kecelakaan Berkali-kali

Perjalanan di jalan tol ternyata bukan tanpa bahaya.
Saya merasa sangat mengantuk, dan setiap kali mata saya terbuka, saya melihat mobil kami hampir saja menabrak kendaraan lain—kadang mobil di depan, kadang di samping, bahkan di antara truk dan Innova.

Tapi anehnya… kami selalu selamat.
Mobil tetap lurus. Tidak terjadi apa-apa.

Saya yakin, itu bukan karena supirnya hebat, tapi karena ada perlindungan ruhani dari Guru saya.
Beliau tahu saya tidak punya siapa-siapa lagi selain Allah dan bimbingan beliau.


Keajaiban Keempat: Perjalanan Tak Masuk Akal Cepatnya

Dan inilah bagian paling luar biasa.

Saat saya tiba di Merak dan lihat jam, saya tertegun.
Perjalanan dari rumah Pangersa hingga Pelabuhan Merak hanya butuh waktu kurang dari 1 jam.

Padahal:

  • Mobil yang kami tumpangi bukan mobil baru, bahkan cenderung tua.
  • Tidak mungkin secara logika menempuh jarak sejauh itu dalam waktu sesingkat itu, apalagi dengan kondisi lalu lintas biasa.

Tapi inilah kenyataan.
Waktu seperti dilipatkan. Jarak seperti dipendekkan.

Dan saya hanya bisa berucap dalam hati,
“Ya Allah, ini karomah mursyidku. Ini keberkahan dari beliau. Ini karena beliau telah ridha.”


Penutup

Saya menulis ini bukan untuk pamer. Tapi untuk mencatat karomah-karomah nyata yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang bersungguh-sungguh mencintai mursyidnya dan menyerahkan perjalanan hidupnya kepada Allah lewat bimbingan orang saleh.

Semoga kisah ini menjadi pelita bagi yang sedang putus harapan, dan pengingat bahwa Allah masih menjaga kita lewat wali-wali-Nya.

Add your Comment